Seni Mengelola Karier, Keuangan, dan Kehidupan di Usia 20-an
Memasuki usia 20-an berarti berhadapan dengan banyak keputusan penting dalam waktu yang hampir bersamaan. Setelah menyelesaikan pendidikan, seseorang mulai membangun karier, memperoleh penghasilan sendiri, dan belajar bertanggung jawab terhadap kondisi finansial.
Baca Juga “Transformasi Karier Jaz Rowe, dari Modeling hingga Mantap Menjadi Musisi“
Pada fase ini, pilihan yang diambil tidak selalu berjalan sesuai rencana. Sebagian anak muda harus bekerja di luar bidang pendidikan, membantu kebutuhan keluarga, atau menghadapi tekanan karena melihat pencapaian orang lain di media sosial.
Berbagai persoalan tersebut menjadi pembahasan dalam agenda After Hours Club yang digelar Harian Kompas (Kompas.id) bersama Zurich Topas Life pada Jumat (24/7/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Zurich Topas Life dalam mendorong literasi keuangan generasi muda. Pembahasannya mencakup pengelolaan arus kas, dana darurat, perlindungan finansial, hingga persiapan menghadapi tujuan jangka panjang.
Usia 20-an Menjadi Fase Penuh Perubahan dan Pilihan
Karina Isna Irawan, Wakil Manajer Riset Ekonomi-Bisnis Litbang Kompas, menilai keresahan pada usia 20-an merupakan hal yang wajar. Menurutnya, generasi muda masih memiliki perjalanan hidup yang panjang untuk menentukan arah masa depan.
“Usia harapan hidup orang Indonesia bisa mencapai 70-an tahun. Jadi, kalau misalnya teman-teman merasa sekarang lagi resah banget, nggak apa-apa. Itu normal dirasakan oleh orang berusia 20-30-an. Hidup teman-teman masih panjang,” ujar Karina.
Pandangan tersebut menempatkan usia 20-an sebagai periode eksplorasi, bukan sekadar masa untuk mengejar pencapaian tertentu. Seseorang masih dapat mengevaluasi pilihan karier, memperbaiki kebiasaan finansial, dan menyusun ulang target kehidupan.
Tekanan untuk segera berhasil juga dapat membuat proses tersebut terasa lebih berat. Karena itu, kemampuan mengenali prioritas menjadi penting agar berbagai keputusan tidak diambil hanya karena mengikuti ekspektasi lingkungan.
Karier Tidak Selalu Berjalan Sesuai Latar Pendidikan
Memasuki dunia profesional tidak selalu berarti seseorang langsung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan kuliah. Perubahan kebutuhan industri dan kondisi pasar kerja dapat membuat seseorang menjalani bidang yang berbeda dari pendidikan sebelumnya.
Anthony, Business Insight & Project Actuary PT Zurich Topas Life, melihat kondisi tersebut sebagai bagian dari proses membangun ketahanan diri. Menurutnya, seseorang perlu menentukan apakah akan beradaptasi dengan keadaan atau mencari jalan baru.
Situasi tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kemampuan yang belum pernah dikembangkan sebelumnya. Pengalaman lintas bidang juga dapat memperluas pemahaman seseorang terhadap dunia kerja.
Namun, adaptasi tidak berarti harus berhenti berkembang. Profesional muda tetap perlu mengevaluasi apakah pekerjaan yang dijalani mendukung tujuan karier dalam jangka panjang.
Tingkatkan Skill dan Networking untuk Memperkuat Karier
Karina menyarankan profesional muda untuk terus meningkatkan nilai diri. Pengembangan kemampuan perlu berjalan bersama dengan pembangunan jejaring yang dapat membuka peluang baru.
“Tingkatkan value, bukan hanya skill tapi juga networking. Dengan begitu, teman-teman pasti akan bertahan. Selain itu juga harus punya target dan plan,” kata Karina.
Menurutnya, target karier perlu disertai rencana yang dapat dievaluasi. Misalnya, seseorang dapat menetapkan target berpindah pekerjaan dalam tiga tahun dan menyiapkan alternatif jika rencana tersebut belum tercapai.
Pendekatan tersebut membuat pengembangan karier menjadi lebih terarah. Seseorang dapat mengukur kemajuan berdasarkan kemampuan, pengalaman, jaringan profesional, dan tujuan yang telah ditetapkan.
Perencanaan juga membantu anak muda menghadapi perubahan dunia kerja. Ketika kondisi industri berubah, mereka memiliki dasar untuk menentukan langkah berikutnya.
Atur Keuangan Tanpa Terjebak Frugal atau Boros
Persoalan finansial menjadi tantangan lain yang banyak dihadapi anak muda. Penghasilan yang mulai diterima sendiri sering kali harus dibagi untuk kebutuhan pribadi, keluarga, tabungan, dan berbagai keinginan.
Anthony menilai pengelolaan uang sebaiknya tidak dilakukan secara ekstrem. Terlalu menekan pengeluaran dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan menikmati hasil kerja, sedangkan konsumsi tanpa kendali dapat mengganggu kondisi finansial.
“Ada orang yang frugal banget, ada yang menghamburkan uang banget. Sebaiknya jangan terlalu ekstrem, lebih baik jika bisa seimbang,” tutur Anthony.
Ia juga mengingatkan risiko burnout apabila seseorang hanya berfokus mengumpulkan uang tanpa memberikan ruang untuk menikmati hasil kerja. Sebaliknya, gaya hidup yang terlalu konsumtif dapat membuat pendapatan habis sebelum kebutuhan penting terpenuhi.
Keseimbangan tersebut dapat dimulai dengan memahami kondisi keuangan sendiri. Pengeluaran rutin, kewajiban, tabungan, dan kebutuhan keluarga perlu diketahui sebelum menentukan batas konsumsi.
Generasi Sandwich Perlu Menyiapkan Keuangan Lebih Matang
Tantangan finansial dapat menjadi lebih kompleks bagi anak muda yang berada dalam posisi generasi sandwich. Selain memenuhi kebutuhan sendiri, mereka dapat memiliki tanggung jawab untuk membantu orang tua atau anggota keluarga lainnya.
Situasi tersebut membuat pengelolaan arus kas menjadi semakin penting. Penghasilan perlu dibagi berdasarkan prioritas agar kewajiban keluarga tidak mengorbankan seluruh persiapan finansial pribadi.
Pencatatan pengeluaran menjadi salah satu cara untuk melihat ke mana uang mengalir. Dari catatan tersebut, seseorang dapat membedakan kebutuhan utama, kewajiban, tabungan, perlindungan, dan pengeluaran yang masih dapat dikurangi.
Tidak ada satu komposisi anggaran yang cocok untuk semua orang. Besarnya pendapatan, jumlah tanggungan, biaya hidup, utang, serta tujuan finansial akan memengaruhi pembagian tersebut.
Media Sosial Bisa Memicu Kebiasaan Membandingkan Diri
Selain karier dan uang, tekanan pada usia 20-an juga datang dari lingkungan digital. Media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat lebih dekat dan dapat memunculkan anggapan bahwa seseorang tertinggal.
Karina mengingatkan anak muda untuk berfokus pada hal-hal yang masih berada dalam kendali mereka. Salah satunya adalah memilih konten digital yang dikonsumsi setiap hari.
Anthony juga menekankan bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Perbedaan kondisi keluarga, kesempatan, pekerjaan, dan tujuan membuat pencapaian seseorang tidak dapat dijadikan ukuran mutlak bagi orang lain.
“Jangan langsung merasa rendah diri, karena semua orang punya cerita yang berbeda. Struggle yang berbeda. Perjalanan hidup seseorang juga pasti berbeda,” ujar Anthony.
Menurutnya, anak muda perlu kembali melihat tujuan pribadi daripada terus membandingkan diri. Fokus pada pekerjaan dan tanggung jawab yang sedang dihadapi dapat membantu menjaga arah perjalanan.
Paylater dan Pembayaran Digital Perlu Diikuti Kontrol Anggaran
Kemudahan pembayaran digital juga membawa tantangan tersendiri bagi pengelolaan keuangan. QR payment, paylater, dan layanan pinjaman digital membuat transaksi dapat dilakukan dengan cepat.
Kemudahan tersebut dapat meningkatkan risiko pembelian impulsif apabila tidak disertai pengendalian anggaran. Transaksi kecil yang dilakukan berulang kali juga dapat menjadi beban ketika jumlah keseluruhannya tidak diperhitungkan.
Karena itu, Anthony menekankan pentingnya mengetahui kondisi aset dan arus kas pribadi. Pencatatan transaksi membantu seseorang melihat kemampuan finansial secara lebih objektif.
Kebiasaan mencatat juga dapat membantu menemukan pengeluaran yang tidak terlalu penting. Setelah mengetahuinya, seseorang dapat menentukan pos mana yang perlu dikurangi atau dialihkan untuk kebutuhan yang lebih prioritas.
Baca Juga “Jejak Karier Destry Damayanti, dari Ekonom hingga Calon Gubernur BI“