Seminar Karier PGMI UIN Walisongo Soroti Masa Depan Guru di Era VUCA dan BANI
Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Walisongo Semarang menggelar Seminar Karier Pendidikan bertema “Merancang Masa Depan Gemilang Melalui Karier di Dunia Pendidikan” di Auditorium 1 Kampus 1 UIN Walisongo, Senin (18/5/2026). Kegiatan ini diikuti ratusan mahasiswa yang tengah mempersiapkan diri menghadapi perubahan dunia pendidikan dan pasar kerja global.
Baca Juga “UMY Pisahkan Jalur Karir Dosen, Peneliti Tak Lagi Dibebani Mengajar“
Seminar tersebut tidak hanya membahas peluang kerja bagi lulusan pendidikan, tetapi juga mengkritisi kesiapan calon guru menghadapi era disrupsi teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta perubahan karakter generasi muda. Para narasumber menilai profesi guru harus mengalami transformasi agar tetap relevan di tengah perkembangan digital yang semakin cepat.
Transformasi Guru Dibutuhkan di Tengah Tantangan Era Digital
Rektor INISNU Temanggung sekaligus alumni PGMI UIN Walisongo, Hamidulloh Ibda, menegaskan bahwa dunia pendidikan sedang menghadapi perubahan besar. Menurutnya, kondisi global saat ini bergerak dari era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) menuju era BANI (Brittle, Anxious, Non-linear, Incomprehensible).
Ia menjelaskan bahwa dunia pendidikan kini berada dalam situasi yang rapuh, penuh kecemasan, tidak linier, dan sulit diprediksi. Karena itu, guru tidak cukup hanya mengandalkan metode pembelajaran konvensional di ruang kelas.
“Jika calon guru masih bertahan dengan metode ceramah tanpa memahami literasi digital dan computational thinking, mereka akan tertinggal oleh perubahan zaman,” ujar Ibda dalam sesi seminar.
Ia menambahkan, kurikulum pendidikan saat ini mulai menuntut penguasaan analisis data dan algoritma dasar sejak sekolah dasar. Kondisi tersebut membuat peran guru berubah dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran dan pembentuk karakter peserta didik.
Guru Masa Kini Dituntut Adaptif dan Melek Teknologi
Dalam pemaparannya, Ibda menilai kecerdasan buatan tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran guru. Namun, guru yang tidak mampu beradaptasi dengan teknologi berisiko kehilangan relevansi di dunia pendidikan modern.
Ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi digital, media pembelajaran interaktif, serta kemampuan berpikir kritis bagi mahasiswa keguruan. Menurutnya, pendidikan masa depan membutuhkan pendidik yang kreatif, fleksibel, dan mampu membangun pengalaman belajar yang kontekstual.
Pandangan tersebut sejalan dengan berbagai laporan pendidikan global yang menyebut keterampilan digital, kreativitas, dan kemampuan komunikasi menjadi kompetensi utama tenaga pendidik di era transformasi digital.
Peluang Karier Guru Meluas ke Dunia Konten Digital
Duta Teknologi Jawa Tengah 2024, Ilining Uswatun Khasanah, turut membahas perubahan pola karier guru di era digital. Guru matematika SMP Negeri 5 Kudus itu menilai banyak mahasiswa pendidikan masih memandang profesi guru secara sempit.
Menurutnya, ruang kelas modern tidak lagi terbatas pada bangunan sekolah. Platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dapat menjadi media pembelajaran sekaligus peluang pengembangan karier baru bagi guru.
“Masa depan karier tidak datang begitu saja setelah lulus. Masa depan dibangun dari langkah kecil yang dimulai sejak kuliah, termasuk melalui konten edukasi yang dibuat secara konsisten,” kata Ilining.
Ia mendorong mahasiswa PGMI untuk mulai membangun identitas digital positif melalui karya edukatif. Guru, kata dia, dapat berkembang menjadi kreator konten pendidikan, pengembang media pembelajaran, hingga edukator digital yang menjangkau audiens lebih luas.
Kampus Dorong Lulusan PGMI Jadi Edupreneur
Seminar ini juga dihadiri sejumlah pimpinan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Walisongo. Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Panitia M. Angga Putra Wicaksono, Ketua HMJ PGMI Nanda Wahyuningtyas, Ketua Jurusan PGMI Dr. Hamdan Husein Batubara, M.Pd.I., serta Wakil Dekan III FITK Dr. H. Karnadi, M.Pd.
Kehadiran pimpinan kampus menunjukkan komitmen institusi dalam mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan industri pendidikan modern. Jurusan PGMI kini tidak hanya mendorong mahasiswa menjadi guru kelas, tetapi juga membuka wawasan tentang profesi pendidikan lain yang lebih inovatif.
Lulusan PGMI didorong menjadi edupreneur, pengembang media pembelajaran digital, konsultan pendidikan, hingga inovator kurikulum berbasis teknologi. Kampus menilai peluang kerja di sektor pendidikan masih sangat terbuka, terutama bagi lulusan yang memiliki kemampuan multidisipliner.
Seminar Karier Jadi Ruang Refleksi Mahasiswa Pendidikan
Melalui seminar ini, HMJ PGMI UIN Walisongo menghadirkan ruang refleksi bagi mahasiswa untuk memahami tantangan profesi guru di masa depan. Dunia pendidikan terus berubah seiring perkembangan teknologi dan karakter generasi baru.
Mahasiswa pendidikan dituntut tidak hanya menguasai teori mengajar, tetapi juga mampu menciptakan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Kemampuan beradaptasi, berpikir kreatif, dan membangun jejaring profesional menjadi faktor penting dalam membangun karier guru modern.
Seminar tersebut sekaligus menegaskan bahwa profesi guru tetap memiliki prospek besar di era digital. Namun, peluang itu hanya dapat diraih oleh pendidik yang siap belajar, bertransformasi, dan aktif menciptakan karya nyata di tengah perubahan global.
Baca Juga “Akselerasi Karir Akademik Dosen, UM Metro Gelar Pendampingan Pengusulan JAD Terbaru 2026“