Gelar S2 dan Jasa Tesis Tak Menjamin Karier Melaju
Rofi, 27 tahun, bukan nama sebenarnya, mengawali pagi dengan rutinitas sederhana di tempat kosnya di Surabaya Selatan. Sebelum berangkat bekerja, ia biasanya duduk di teras sambil merokok dan membaca berita melalui ponsel.
Kebiasaan itu terkadang membuat pikirannya semakin penuh. Salah satu hal yang mengusik pikirannya ialah kenyataan bahwa pendidikan tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan peluang kerja dan perkembangan karier.
“Bagaimana nggak sumpek. Selain berita tentang pidato seorang presiden yang memuakkan, pagi-pagi aku ditampar fakta jutaan pengangguran terdidik, dari S1, S2, hingga S3,” ujar Rofi, Jumat (4/9/2026).
Rofi merupakan lulusan S2 dari salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya. Ia menyelesaikan pendidikan tersebut pada 2024 setelah sebelumnya menempuh studi S1 di kampus yang sama.
Namun, gelar magister yang dahulu ia anggap dapat membuka jalan menuju pekerjaan lebih baik ternyata belum menghasilkan perubahan besar dalam perjalanan kariernya.
Mengejar Gelar S2 dengan Dukungan Orang Tua
Rofi mengaku melanjutkan pendidikan ke jenjang magister karena melihat gelar S2 sebagai modal penting untuk memperoleh pekerjaan dengan posisi dan penghasilan lebih baik.
Baca Juga “UNAIR Tawarkan Roadmap “Empat Tahun Menempa Karier” di Forum ASEAN“
Ketika sebagian teman satu angkatannya memilih langsung bekerja setelah menyelesaikan S1, Rofi justru kembali meminta dukungan biaya pendidikan kepada orang tuanya.
“Aku nggak mau ribet dengan administrasi beasiswa. Jadi ambil reguler saja. Biayanya ya minta orang tua,” katanya.
Menurut Rofi, saat itu ia meyakini gelar S2 dapat meningkatkan peluangnya memperoleh pekerjaan yang lebih mapan. Ia bahkan membayangkan bisa bekerja sebagai dosen, aparatur sipil negara, atau pegawai pemerintahan.
Keyakinan tersebut membuatnya tidak terlalu mempersoalkan biaya kuliah. Orang tuanya juga tetap memberikan dukungan karena sejak pendidikan S1, keluarga terbiasa membantu kebutuhan akademiknya.
Tekanan Kuliah dan Keinginan Lulus Lebih Cepat
Pengalaman Rofi selama menempuh S2 ternyata tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi. Banyak teman sekelasnya sudah bekerja sehingga mereka menjalani kuliah sambil membangun karier.
Kondisi tersebut membuat Rofi merasa tertinggal. Setelah mengikuti perkuliahan, sebagian besar teman sekelasnya langsung kembali bekerja.
“Di satu sisi itu membuatku agak malu karena aku belum kerja. Bahkan banyak mahasiswa perempuan yang juga sambil ngajar. Sementara aku ya, kuliah pulang-kuliah pulang,” ujarnya.
Rofi kemudian semakin melihat gelar sebagai tujuan utama. Ia tidak menjadikan proses pendidikan tersebut sebagai kesempatan untuk memperdalam keahlian atau membangun pengalaman profesional.
Pandangan itu akhirnya memengaruhi cara Rofi menyelesaikan tesis. Ia mengaku ingin segera lulus dan mulai bekerja.
Menggunakan Jasa Joki Tesis untuk Mengejar Kelulusan
Keinginan menyelesaikan studi dengan cepat membuat Rofi mengambil keputusan menggunakan jasa pengerjaan tesis. Ia memperoleh layanan tersebut melalui kenalan dari teman sekelasnya.
Rofi menyebut biaya yang dikeluarkannya sekitar Rp5 juta. Menurut pengakuannya, keputusan tersebut ia ambil karena ingin menghemat waktu dan segera mendapatkan pekerjaan.
“Kalau mereka alasannya lebih karena nggak ada waktu buat mengerjakan sendiri.Kalau aku, murni pengin cepat lulus terus dapat kerjaan, jadi pakai jasa joki tesis,” kata Rofi.
Penggunaan jasa tersebut tidak membuat proses penyelesaian tesis berlangsung tanpa hambatan. Rofi tetap menghadapi sejumlah revisi sebelum akhirnya menyelesaikan studi dan memperoleh gelar magister pada 2024.
Pengalaman tersebut juga menunjukkan persoalan lain dalam pendidikan tinggi. Gelar akademik pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan status kelulusan, tetapi juga proses membangun kemampuan berpikir, melakukan riset, dan menguasai bidang keilmuan.
Gelar S2 Belum Mengubah Arah Karier
Setelah wisuda, Rofi sempat merasa pencapaiannya akan memberikan nilai lebih ketika mencari pekerjaan. Unggahan foto wisudanya juga mendapat respons positif dari sejumlah teman lama.
“Waktu unggah foto wisuda, ya semakin merasa di atas angin karena teman-teman S1 dulu yang komentar itu kayak memandang pencapaianku prestisius,” ujarnya.
Namun, realitas pencarian kerja tidak semudah yang ia bayangkan. Rofi mengaku gagal dalam seleksi ASN dan belum berhasil mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan ekspektasinya.
Ia akhirnya bekerja sebagai tenaga pendidik honorer di sebuah perguruan tinggi swasta di Surabaya. Posisi tersebut belum memberikan peningkatan karier dan penghasilan seperti yang sebelumnya ia harapkan.
“Sejak 2024 sampai sekarang, karierku nggak ke mana-mana, sambil terus coba apply di banyak perusahaan,” tutur Rofi.
Menurutnya, pendapatan yang diterima saat ini juga belum sebanding dengan biaya pendidikan yang sebelumnya dikeluarkan orang tua.
Pengalaman Rofi Tidak Mewakili Semua Lulusan S2
Kondisi yang dialami Rofi tidak serta-merta menunjukkan bahwa gelar S2 tidak memiliki manfaat bagi karier. Nilai sebuah pendidikan magister sangat bergantung pada bidang studi, kompetensi, pengalaman kerja, jaringan profesional, serta kebutuhan industri.
Gelar akademik juga tidak otomatis menjamin seseorang memperoleh pekerjaan dengan jabatan atau penghasilan tertentu. Perusahaan dan institusi dapat mempertimbangkan kemampuan teknis, pengalaman, komunikasi, portofolio, serta kesesuaian kandidat dengan kebutuhan pekerjaan.
Karena itu, keputusan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 idealnya tidak hanya didasarkan pada gengsi gelar. Calon mahasiswa perlu mempertimbangkan tujuan akademik, prospek bidang studi, biaya, peluang karier, serta kompetensi yang ingin dibangun.
Integritas Akademik Menjadi Bagian Penting Pendidikan
Pengalaman Rofi juga menyoroti persoalan integritas akademik. Menggunakan pihak lain untuk mengerjakan tesis berarti menghilangkan sebagian proses pembelajaran yang seharusnya dijalani mahasiswa secara mandiri.
Tesis dirancang untuk melatih mahasiswa melakukan penelitian, menganalisis persoalan, menyusun argumen berdasarkan bukti, dan mempertanggungjawabkan hasil akademiknya.
Ketika proses tersebut dialihkan kepada pihak lain, mahasiswa berisiko kehilangan kompetensi yang seharusnya menjadi bagian dari hasil pendidikan. Risiko tersebut dapat menjadi persoalan ketika lulusan harus menerapkan pengetahuan dalam pekerjaan.
Gelar Perlu Diikuti Kompetensi dan Pengalaman
Rofi kini melihat kembali keputusan yang pernah diambilnya. Ia menyadari bahwa gelar S2 tidak otomatis menjadi tiket menuju pekerjaan yang lebih baik.
“Jadi ya aku cuma menang berlabel ‘dosen’, tapi kalau tahu gajinya ya kayak memprihatinkan,” katanya.
Ia juga melihat beberapa kenalannya yang memiliki gelar S2 tetapi perkembangan kariernya relatif tidak banyak berubah. Sebagian tetap bekerja sebagai guru, sementara lainnya memilih membangun usaha atau bekerja di sektor lain.
Namun, pengalaman tersebut sebaiknya tidak digunakan untuk menyimpulkan bahwa pendidikan S2 tidak berguna. Pendidikan tinggi tetap dapat memberikan manfaat ketika dijalani dengan tujuan yang jelas dan diikuti pengembangan kompetensi yang relevan.
Bagi pencari kerja, gelar akademik dapat menjadi salah satu bagian dari profil profesional. Namun, kemampuan menerapkan pengetahuan, pengalaman, portofolio, dan kemampuan beradaptasi tetap menjadi faktor penting dalam membangun karier.
Pada akhirnya, pengalaman Rofi menjadi pengingat bahwa mengejar gelar demi status sosial tidak selalu menghasilkan karier seperti yang dibayangkan. Pendidikan akan lebih bernilai ketika gelar berjalan beriringan dengan kompetensi, pengalaman, integritas, dan tujuan profesional yang jelas.
Baca Juga “Karier KAI 2026 Resmi Dibuka! Ini Formasi, Syarat Dokumen, dan Cara Daftarnya“