Gen Z Kini Lebih Berani Menentukan Arah Karier Sendiri
Generasi Z tumbuh dengan cara pandang berbeda soal karier. Mereka tidak selalu mengikuti jejak orang tua atau keluarga. Sebuah survei Deloitte yang melibatkan lebih dari 23 ribu responden Gen Z dan milenial di 44 negara mengungkap fakta menarik. Hanya enam persen Gen Z yang menargetkan posisi kepemimpinan senior sebagai tujuan utama. Sebaliknya, mayoritas dari mereka lebih mengejar kesempatan belajar, ruang berkembang, dan pekerjaan yang selaras dengan nilai pribadi.
Ian Rahman Wijayanta: Berani Ambil Jalur Berbeda
Salah satu Gen Z yang mengambil langkah berbeda adalah Ian Rahman Wijayanta. Pemuda lulusan SMAN 5 Malang ini kini menempuh studi di Program Studi Kimia Universitas Pertamina. Ia terdaftar sebagai penerima Beasiswa APERTI BUMN. Ian dibesarkan dalam keluarga aparatur sipil negara. Meski demikian, ia memilih bidang yang sama sekali berbeda dari orang tuanya. Keputusan itu ternyata mendapat restu penuh. Keluarganya hanya berpesan agar kebebasan memilih diiringi disiplin dan tanggung jawab.
Baca Juga “Jejak Karier Suahasil Nazara, dari Akademisi hingga Jadi Menkeu“
“Bagi keluarga saya, yang terpenting bukan harus mengikuti jalan yang sama, tetapi bagaimana saya bertanggung jawab terhadap pilihan sendiri. Itu yang membuat saya belajar untuk lebih disiplin dan sungguh-sungguh menjalani keputusan yang sudah saya ambil,” ujar Ian, dikutip dari laman Universitas Pertamina, Rabu, 16 September 2026.
Disiplin sebagai Bekal Utama dari Rumah
Nilai disiplin menjadi warisan penting yang Ian serap dari keluarganya. Menurut dia, kebebasan memilih bukan berarti bebas tanpa arah. Justru sebaliknya, kebebasan itu menuntut pembuktian melalui keseriusan selama menempuh pendidikan. Ian pun menyadari setiap keputusan punya konsekuensi yang harus ditanggung sendiri.
Kimia sebagai Jalan Ian Membangun Masa Depan
Alasan di Balik Pilihan Bidang Kimia
Ian menetapkan kimia sebagai bidang yang ingin ia kuasai. Selama menjalani kuliah, ia bertekad memperdalam pengetahuan dan memetakan peluang karier dari bidang tersebut. Tujuannya agar ia bisa menentukan arah karier lebih awal. Menurut Ian, masa kuliah adalah fase krusial untuk membangun fondasi karier yang kuat.
“Ketika sudah menjadi mahasiswa, kita mulai bertanggung jawab terhadap masa depan kita sendiri. Kita yang menentukan ingin berkembang ke arah mana, jadi keputusan itu juga harus diikuti dengan usaha dan komitmen,” tuturnya.
Konsistensi sebagai Kunci Menjalani Pilihan
Memilih jalur berbeda dari keluarga membuat Ian semakin paham arti konsistensi. Dukungan orang tua memberinya ruang untuk menentukan arah sendiri. Namun, dukungan itu juga menuntut pembuktian lewat kedisiplinan dan kesungguhan. Ian ingin memanfaatkan masa kuliah untuk mengasah kemampuan akademik, memperluas pengalaman, dan mendalami bidang yang ia tekuni.
Beasiswa APERTI BUMN dan Dukungan bagi Gen Z Berprestasi
Mengenal Beasiswa APERTI BUMN
Beasiswa APERTI BUMN digagas oleh Aliansi Perguruan Tinggi BUMN. Program ini menyasar lulusan SMA, SMK, dan MA yang ingin melanjutkan studi di kampus anggota APERTI BUMN. Skema yang ditawarkan mencakup beasiswa penuh hingga lulus dan beasiswa parsial. Ketentuan masing-masing perguruan tinggi tetap berlaku dalam program ini.
Apresiasi Ian kepada Pihak yang Mendukungnya
Ian menyampaikan terima kasih kepada APERTI BUMN, Universitas Pertamina, dan keluarganya. Menurut dia, mereka telah memberi kesempatan dan dukungan yang sangat berarti. Dukungan itu menjadi penyemangat baginya untuk terus disiplin, berkembang, dan menjalani pilihannya dengan sungguh-sungguh.
Pelajaran dari Kisah Ian bagi Gen Z Lainnya
Keberanian Menentukan Pilihan Sendiri
Kisah Ian membuktikan masa depan tidak harus dibentuk dengan mengikuti jalan yang sudah ada. Masa depan bisa dimulai dari keberanian menentukan pilihan. Kesediaan bertanggung jawab atas pilihan itu menjadi kunci utamanya. Ian menunjukkan bahwa Gen Z mampu mengambil keputusan karier secara mandiri. Dukungan keluarga tetap berperan penting dalam proses tersebut.
Data Deloitte: Gen Z Lebih Memilih Pengembangan Diri
Survei Deloitte memperkuat gambaran ini. Hanya enam persen Gen Z yang menjadikan posisi kepemimpinan senior sebagai tujuan utama karier. Mayoritas Gen Z lebih mengutamakan kesempatan belajar dan berkembang. Mereka juga mencari pekerjaan yang selaras dengan tujuan pribadi. Temuan ini menegaskan Gen Z punya cara pandang berbeda dalam memaknai karier.
Pandangan ke Depan: Gen Z sebagai Penggerak Perubahan
Ke depan, Gen Z seperti Ian diprediksi menjadi penggerak perubahan di dunia kerja. Mereka tidak hanya mengejar karier, tetapi juga mencari makna dan dampak. Bidang sains seperti kimia menjadi salah satu jalur yang menjanjikan. Dengan bekal kedisiplinan, komitmen, dan dukungan beasiswa, Ian membangun masa depannya langkah demi langkah. Kisahnya menjadi contoh nyata bahwa pilihan yang berbeda bukanlah hambatan. Justru pilihan itu bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih bermakna.
Baca Juga “5 Jurusan Kuliah Favorit Paling Diincar Perusahaan dengan Prospek Karier Luas dan Menjanjikan“