3 Alasan Kesiapan Karier Perlu Dibangun Sejak Semester Awal Kuliah
Dunia kerja terus berubah dan menuntut lulusan memiliki lebih dari sekadar ijazah. Prestasi akademik memang dapat menjadi modal awal ketika mencari pekerjaan, tetapi pengalaman dan kemampuan interpersonal juga berperan dalam menghadapi tuntutan profesional.
Pengalaman Tanoto Foundation melalui program beasiswa TELADAN menunjukkan pentingnya mempersiapkan mahasiswa secara bertahap. Kesiapan karier tidak terbentuk secara instan ketika mahasiswa mendekati wisuda.
Pengalaman Praktis Melengkapi Kemampuan Akademik
Pendidikan di perguruan tinggi memberikan dasar pengetahuan yang penting bagi perjalanan profesional. Namun, mahasiswa juga perlu memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam situasi yang lebih dekat dengan dunia kerja.
Lingkungan profesional menuntut kemampuan menyampaikan gagasan, bekerja bersama orang dengan latar belakang berbeda, serta merespons perubahan. Pengambilan keputusan dalam situasi yang belum sepenuhnya pasti juga menjadi bagian dari tantangan tersebut.
Baca Juga “10 Kampus Indonesia Terbaik untuk Karier Versi QS 2027, UI, ITB, atau UGM?“
Mahasiswa dapat melatih kemampuan itu melalui berbagai aktivitas. Proyek kampus, magang, organisasi, kegiatan komunitas, mentoring, hingga pengalaman menjadi relawan dapat menjadi ruang untuk mengembangkan keterampilan praktis.
Proses tersebut juga membutuhkan kemampuan mengevaluasi diri. Kesediaan menerima masukan dan belajar dari kesalahan membantu mahasiswa memahami kekuatan sekaligus area yang masih perlu diperbaiki.
Akses Pengalaman Karier Belum Merata bagi Mahasiswa
Kesempatan mengembangkan pengalaman profesional tidak selalu tersedia secara setara bagi seluruh mahasiswa. Sebagian mahasiswa memiliki akses lebih luas terhadap magang, organisasi, pertukaran pelajar, kegiatan pengembangan diri, atau jejaring profesional.
Perbedaan akses tersebut dapat memengaruhi pengalaman yang dimiliki mahasiswa ketika memasuki pasar kerja. Padahal, pengalaman relevan sering menjadi bagian penting dalam menunjukkan kemampuan selain pencapaian akademik.
Jejaring juga dapat memperluas pemahaman mahasiswa mengenai dunia profesional. Interaksi dengan mentor, praktisi, alumni, maupun calon pemberi kerja dapat memberikan wawasan mengenai kebutuhan dan ekspektasi industri.
Karena itu, program mentoring yang terstruktur dan kesempatan memperoleh pengalaman kerja dapat membantu memperluas akses pengembangan karier. Pendekatan tersebut memberi mahasiswa ruang untuk membangun kompetensi sekaligus mengenali lingkungan profesional sejak masih kuliah.
Semester Awal Menjadi Ruang untuk Eksplorasi
Memulai persiapan karier sejak semester awal tidak berarti mahasiswa harus menentukan profesi secara permanen. Masa kuliah justru dapat digunakan untuk mencoba berbagai aktivitas dan memahami bidang yang paling sesuai dengan minat serta kemampuan.
Mahasiswa dapat mengeksplorasi berbagai pilihan melalui organisasi, proyek, kompetisi, magang, komunitas, atau kegiatan pengembangan kapasitas. Setiap pengalaman dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.
Proses tersebut juga membantu mahasiswa memahami nilai pribadi dan keterampilan yang ingin dikembangkan. Pilihan karier kemudian dapat menjadi lebih terarah karena dibangun dari pengalaman, bukan sekadar asumsi mengenai suatu profesi.
Semakin awal mahasiswa memperoleh kesempatan untuk mencoba, semakin banyak waktu yang tersedia untuk melakukan evaluasi. Mereka dapat mengubah arah ketika menemukan bidang yang kurang sesuai tanpa harus menunggu sampai mendekati kelulusan.
TELADAN Menggabungkan Dukungan Pendidikan dan Pengembangan Kepemimpinan
Pendekatan pengembangan sejak masa kuliah menjadi bagian dari program beasiswa TELADAN atau Teaching Leadership, Advancing the Nation yang dijalankan Tanoto Foundation.
Program tersebut tidak hanya memberikan dukungan biaya pendidikan. Tanoto Scholars, sebutan bagi penerima beasiswa, juga mengikuti pengembangan kepemimpinan secara terstruktur selama 3,5 tahun.
Program pengembangan berlangsung dari semester dua hingga semester delapan. Rangkaian tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa membangun kemampuan kepemimpinan secara bertahap sebelum memasuki lingkungan profesional.
Ekosistem TELADAN juga mencakup Tanoto Scholars Association, kegiatan Pay It Forward, Tanoto Scholars Gathering, kesempatan magang, pengalaman global, sponsorship, serta jaringan alumni di Indonesia dan luar negeri.
Riset Mengaitkan Kesiapan Kerja dengan Berbagai Kompetensi
Studi mengenai program TELADAN yang berjudul What Drives Graduate Employability? dan diterbitkan dalam Journal of Further and Higher Education turut menyoroti sejumlah faktor yang berkaitan dengan kesiapan kerja lulusan.
Riset tersebut mengidentifikasi ketangguhan atau grit, kemampuan menetapkan tujuan, komunikasi, kolaborasi, serta pengambilan keputusan mandiri sebagai sejumlah faktor yang berperan dalam kesiapan kerja.
Studi yang sama melaporkan bahwa penerima beasiswa TELADAN memiliki kemungkinan 27 persen lebih tinggi untuk memperoleh pekerjaan. Penelitian itu juga mencatat peluang mobilitas sosial ke atas yang dua kali lebih besar.
Menurut hasil penelitian tersebut, sebagian penerima bahkan mencapai atau melampaui tingkat pendapatan orang tua dalam tahun pertama setelah bekerja. Temuan ini menjadi salah satu data yang menggambarkan hubungan antara pengembangan kapasitas mahasiswa dan transisi menuju dunia kerja.
Pengembangan Karier Perlu Berlangsung Secara Bertahap
Sejak 2006, Tanoto Foundation menyebut telah mendukung lebih dari 8.000 Tanoto Scholars di 10 universitas mitra melalui Program TELADAN.
Pendekatan program tersebut mencakup pengembangan kepemimpinan secara holistik. Prosesnya dimulai dari kepemimpinan diri, berkembang menuju kemampuan bekerja secara kolaboratif, lalu berlanjut pada persiapan menghadapi dunia profesional.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kesiapan kerja dapat dibangun jauh sebelum wisuda. Prosesnya tidak hanya bergantung pada nilai akademik, tetapi juga kesempatan untuk mencoba, menerima umpan balik, membangun jejaring, dan mengembangkan keterampilan.
Pada akhirnya, semester awal kuliah dapat menjadi titik awal untuk mengenali potensi dan memperluas pengalaman. Dengan proses yang konsisten, mahasiswa memiliki lebih banyak ruang untuk membentuk kompetensi dan menentukan arah karier berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh.
Baca Juga “PHK di Usia 30-an tak hanya Berdampak pada Karier, tetapi juga Mental“